Category
- My Juve (7)
- Patah Kata (5)
- Sejarah (5)
Desember 25, 2012
2012–sekarang: Kembali ke jalur juara
23.44
| Posted by
rainmazter
![]() |
| Scudetto 2011 - 2012 |
Di bawah asuhan pelatih baru Antonio Conte yang merupakan mantan
pemain Juve di masa silam, Si Nyonya Tua kembali menemukan jati dirinya
yang hilang dalam beberapa musim terakhir dan keluar sebagai Scudetto di
akhir musim 2011-12.
Juventus pun mencatat rekor meyakinkan sampai musim berakhir yaitu
tidak terkalahkan sepanjang musim sekaligus menjadi klub pertama dalam
sejarah Seri A yang tidak terkalahkan dalam format Seri A yang mengikut
sertakan 20 klub. Juve pun kembali membuktikan diri sebagai salah satu
klub yang paling kuat dalam segi bertahan dengan hanya kebobolan 20
kali, dan menjadi klub terbaik kedua Eropa di musim 2011-12 yang
mencatat rekor paling sedikit kebobolan
2004–2011 : Terjerat masalah dan masa pemulihan
23.40
| Posted by
rainmazter
Mantan pemain Juventus era 1970-an, Fabio Capello
diangkat menjadi pelatih Juve pada 2004. Ia membawa timnya menjuarai
dua musim Seri-A di musim 2004-05 dan 2005-06. Sayangnya, di Mei 2006
Juve ketahuan menjadi salah satu klub Seri-A yang terlibat skandal
pengaturan skor bersama AC Milan, AS Roma, SS Lazio, dan ACF Fiorentina.
Juve terkena sanksi berat, dimana mereka terpaksa di degradasi ke
seri-B untuk pertama kali dalam sejarah. Dua gelar yang dibawa Capello
juga harus direlakan untuk dicabut.
![]() |
| Antonio Conte |
Dibawah manajer muda Perancis, Didier Deschamps
dan para pemain setia seperti Gianluigi Buffon dan Pavel Nedved, Juve
menjadi tim super di Seri-B dan dengan hasil sebagai juara seri-B untuk
pertama kalinya, Juve kembali ke Seri-A pada musim 2007-08. Claudio Ranieri
diangkat menjadi pelatih Juve setelah Deschamps berseteru soal bayaran
gaji. Sayangnya usia Ranieri juga tidak berlangsung lama setelah ia
gagal membawa Juve juara di musim 2008-09. Mantan pemain Juve lain, Ciro Ferrara mulai bertugas menangani Juve di dua pertandingan akhir musim 2008-09 dan melanjutkan posisinya untuk musim 2009-10.
Namun Ferrara pun tidak bisa bertahan lama, karena di bulan Januari
2010 ia gagal membawa Juve berprestasi lebih baik setelah kandas di
babak penyisihan grup Liga Champions. Ia pun akhirnya digantikan oleh Alberto Zaccheroni. Zaccheroni menangangi Juventus sampai akhir musim 2009-10 dan kemudian ia digantikan oleh Luigi Del Neri
untuk musim 2010-11. Namun setelah serentetan hasil buruk di paruh
musim kedua, manajemen Juventus akhirnya memutuskan untuk memecat Del
Neri tidak lama setelah musim berakhir, dan ia digantikan oleh mantan
bintang Juventus di era 1990-an, Antonio Conte untuk musim 2011-12.
1994–2003 Marcello Lippi mengambil alih posisi manajer Juventus pada awal musim 1994-95.[3] Ia lantas mengantarkan Juventus memenangi Seri-A untuk pertama kalinya sejak pertengahan 1980-an di musim 1994-95. Pemain bintang yang ia asuh saat itu adalah Ciro Ferrara, Roberto Baggio, Gianluca Vialli dan pemain muda berbakat bernama Alessandro Del Piero. Lippi memimpin Juventus untuk memenangi Liga Champions Eropa pada musim itu juga, dengan mengalahkan Ajax Amsterdam melalui adu penalti, setelah skor imbang 1-1 pada babak normal, dimana Fabrizio Ravanelli menyumbangkan satu gol untuk Juve.[27] Sesaat setelah bangkit kembali, para pemain Juventus yang biasa-biasa saja saat itu secara mengagumkan bisa mengembangkan diri mereka menjadi pemain-pemain bintang. Mereka adalah Zinedine Zidane, Filippo Inzaghi dan Edgar Davids. Juve kembali memenangi Seri-A musim 1996–97 dan 1997–98, termasuk juga Piala Super Eropa 1996[28] dan Piala Interkontinental 1996.[29] Juventus juga mencapai final Liga Champions di musim 1997 dan 1998, tetapi mereka kalah oleh Borussia Dortmund (Jerman) dan Real Madrid (Spanyol).[30][31] Setelah dua musim absen karena dikontrak oleh Inter Milan (dan gagal), Marcello Lippi kembali ke Juventus di awal 2001. Pria penyuka cerutu ini lantas membawa beberapa pemain biasa, yang kembali ia berhasil sulap menjadi pemain hebat, di antaranya Gianluigi Buffon, David Trézéguet, Pavel Nedvěd dan Lilian Thuram, dimana para pemain tersebut membantu Juve kembali memenangi dua gelar Seri-A di musim 2001-02 dan 2002-03. Juve juga berhasil maju kembali ke final Liga Champions, sayangnya mereka kalah oleh sesama tim Italia lain, AC Milan. Tahun berikutnya, Lippi diangkat menjadi manajer timnas Italia setelah bersaing ketat dengan Fabio Capello, dan mengakhiri eranya sebagai pelatih terbaik Juventus di era 1990-an dan awal 2000-an.: Era Marcello Lippi
23.29
| Posted by
rainmazter
![]() |
| Marcelo Lippi |
Marcello Lippi mengambil alih posisi manajer Juventus pada awal musim 1994-95.
Ia lantas mengantarkan Juventus memenangi Seri-A untuk pertama kalinya
sejak pertengahan 1980-an di musim 1994-95. Pemain bintang yang ia asuh
saat itu adalah Ciro Ferrara, Roberto Baggio, Gianluca Vialli dan pemain muda berbakat bernama Alessandro Del Piero. Lippi memimpin Juventus untuk memenangi Liga Champions Eropa pada musim itu juga, dengan mengalahkan Ajax Amsterdam melalui adu penalti, setelah skor imbang 1-1 pada babak normal, dimana Fabrizio Ravanelli menyumbangkan satu gol untuk Juve.
![]() |
| Juara Liga Champion 1995 - 1996 |
Setelah dua musim absen karena dikontrak oleh Inter Milan (dan
gagal), Marcello Lippi kembali ke Juventus di awal 2001. Pria penyuka
cerutu ini lantas membawa beberapa pemain biasa, yang kembali ia
berhasil sulap menjadi pemain hebat, di antaranya Gianluigi Buffon, David Trézéguet, Pavel Nedvěd dan Lilian Thuram,
dimana para pemain tersebut membantu Juve kembali memenangi dua gelar
Seri-A di musim 2001-02 dan 2002-03. Juve juga berhasil maju kembali ke
final Liga Champions, sayangnya mereka kalah oleh sesama tim Italia
lain, AC Milan. Tahun berikutnya, Lippi diangkat menjadi manajer timnas Italia setelah bersaing ketat dengan Fabio Capello, dan mengakhiri eranya sebagai pelatih terbaik Juventus di era 1990-an dan awal 2000-an.
1981–1993 : Scudetto ke-20 dan merajai Eropa
23.22
| Posted by
rainmazter
![]() |
| Paolo Rossi |
![]() |
| Michael Platini |
Setelah era keemasan Rossi usai, Michel Platini
kemudian secara mengejutkan berhasil menjadi pemain terbaik Eropa tiga
kali berturut-turut; 1983, 1984 dan 1985, dimana sampai saat ini belum
ada pemain yang bisa menyamai dirinya. Juventus menjadi satu-satunya
klub yang mampu mengantarkan pemainnya menjadi pemain terbaik Eropa
sebanyak empat tahun berurutan. Platini juga menjadi bintang saat Juve berhasil menjadi juara Liga Champions Eropa pada 1985 dengan sumbangan satu gol semata wayangnya. Tragisnya, final melawan Liverpool FC
dari Inggris tersebut yang berlangsung di Stadion Heysel Belgia, harus
dibayar mahal dengan kematian 39 tifoso Juventus akibat terlibat kerusuhan
dengan para hooligans dari Liverpool.
Sebagai hukuman, tim-tim Inggris
dilarang mengikuti semua kejuaraan Eropa selama lima tahun.
Juventus kemudian merebut scudetto terakhir mereka di era 1980-an pada
musim 1985-86, yang juga menjadi tahun terakhir Trappatoni di Juventus.
Memasuki akhir 1980-an, Juve gagal menunjukkan performa terbaiknya,
mereka harus mengakui keunggulan Napoli dengan bintang Diego Maradona, dan kebangkitan dua tim kota Milan, AC Milan dan Inter Milan. Pada 1990, Juve pindah kandang ke Stadio delle Alpi, yang dibangun untuk persiapan Piala Dunia 1990.
![]() |
| Kerusuhan di Final Liga Champion vs Liverpool |
1923–1980 : Masuknya Keluarga Agnelli dan merajai Italia
23.00
| Posted by
rainmazter
Pemilik FIAT, Edoardo Agnelli mengambil alih kendali Juventus pada 1923, dimana kemudian ia membangun stadion baru. Hal ini memberikan semangat baru untuk Juventus, dimana pada musim 1925-26, mereka berhasil menjadi scudetto dengan mengalahkan Alba Roma
dengan agregat 12-1. Pada era 1930-an, klub ini menjadi klub super di
Italia dengan memenangi gelar lima kali berturut-turut dari 1930 sampai
1935, dibawah asuhan pelatih Carlo Carcano, dan beberapa pemain bintang seperti Raimundo Orsi, Luigi Bertolini, Giovanni Ferrari dan Luis Monti.
Juventus kemudian pindah kandang ke Stadio Comunale,
tetapi di akhir 1930-an dan di awal 1940-an mereka gagal merajai
Italia. Bahkan mereka harus mengakui tim sekota mereka, A.C. Torino.
Secercah prestasi kemudian muncul di musim 1937-38 saat Juve menjuarai
Piala Italia pertama mereka setelah di final mengalahkan klub sekota
mereka, Torino.
Setelah berada di posisi 6 pada musim 1940-41, Juve lantas merebut
Piala Italia kedua mereka di musim berikutnya. Di periode ini, Italia
ikut Perang Dunia II dan ini membuat jalannya Liga menjadi terhambat.
Sepakbola Italia kemudian memutuskan untuk terus berlangsung saat masa
perang berjalan. Pada 1944, Juve ikut serta dalam sebuah turnamen lokal,
yang akhirnya urung diselesaikan. Pada 14 Oktober, Liga kembali
bergulir dan ditandai dengan derby Torino vs. Juventus. Torino yang saat
itu mendapat sebutan "Grande Torino" kalah 2-1 dari Juventus. Namun di
akhir musim justru Torino berhasil juara. Pada jeda musim panas, sebuah
peristiwa penting terjadi di Juve pada 22 Juli 1945, Gianni Agnelli
mengambil alih posisi presiden klub, meneruskan tradisi keluarga
Agnelli. Dalam kepempinannya, Agnelli mendatangkan Giampiero Boniperti
dalam jajaran staffnya. Ditambah amunisi baru seperti Muccinelli dan
striker asal Denmark John Hansen. Setelah Perang Dunia II usai Juve
berhasil menambah dua gelar Seri-A pada 1949–50 dan 1951–52, dibawah
kepelatihan orang Inggris, Jesse Carver.
![]() | |||
| Omar Sivori, John Charles dan Giampiero Boniperti |
Gianni Agnelli lantas meninggalkan klub pada 18 September 1954. Tahun
ini periode gelap Juve dimulai dengan hanya mampu finish di posisi 7.
Musim berikutnya, di bawah arahan manajer Puppo yang mengandalkan skuat
muda Juve mulai mencoba bangkit. Setelah serangkaian kekalahan karena
skuat yang belum matang, pada November 1956 kabar baik berembus dengan
masuknya Umberto Agnelli sebagai komisioner klub. skuat menjadi kuat
dengan kedatangan beberapa pemain hebat seperti Omar Sivori dan pemuda Wales bernama John Charles yang menemani para punggawa lama seperti Giampiero Boniperti.
Musim 1957-58, Juve kembali berjaya di Seri-A, dan menjadi klub Italia
pertama yang mendapatkan bintang kehormatan karena telah memenangi 10
gelar Liga Seri-A. Di musim yang sama, Omar Sivori terpilih menjadi
pemain Juventus pertama yang memenangi gelar Pemain Terbaik Eropa. Juve
juga berhasil memenangi Coppa Italia setelah mengalahkan ACF Fiorentina
di final. Boniperti pensiun di 1961 sebagai top skorer terbaik Juventus
sepanjang masa dengan 182 gol di semua kompetisi yang ia ikuti bersama
Juventus.
Di era 1960-an, Juve hanya sekali memenangi Seri-A yaitu di musim
1966–67. Tetapi pada era 1970-an, Juve kembali menemukan jatidirinya
sebagai klub terbaik Italia. Di bawah arahan Čestmír Vycpálek,
Juve berusaha bangkit di musim 1971-72. Di paruh pertama musim, Juve
belum stabil dalam permainan dan di paruh kedua mereka berhasil kembali
ke performa terbaik terutama saat mencapai final Fairs Cup (cikal bakal Piala UEFA) namun kalah dari Leeds United.
Di pekan ke-4 liga, Juve kemudian berhasil mengalahkan AC Milan 4-1 di
San Siro ditandai permainan apik Bettega dan Causio. Namun beberapa saat
kemudian, Bettega harus istirahat karena sakit dan posisi pertama
klasemen milik Juve menjadi terancam. Untungnya mereka berhasil
konsisten dan merebut scudetto ke-14 mereka. Selanjutnya di musim
1972-73 Juve kedatangan Dino Zoff dan Jose Altafini
dari Napoli. Di musim ini, Juve dihadapkan pada jadwal di Seri-A dan
kompetisi Eropa. Setelah berjuang sampai menit akhir, Juve berhasil
menyalip AC Milan, yang secara mengejutkan kalah dipertandingan terakhir
mereka, dan merebut scudetto ke-15. Juve juga bahkan berhasil masuk
final Piala Champions musim tersebut, namun di mereka kalah dari Ajax Amsterdam yang dimotori oleh Johan Crujff. Selanjutnya mereka berhasil menambah tiga gelar lagi bersama defender Gaetano Scirea di musim 1974-75, 1976–77 dan 1977–78. Dan dengan masuknya pelatih hebat bernama Giovanni Trapattoni, Juve berhasil memperpanjang dominasi mereka di era 1980-an.
Desember 15, 2012
Sejarah Juventus
00.28
| Posted by
rainmazter
1897 AWAL MULA
Dari Bangku Cadangan Pemain
Setiap legenda mempunyai cerita dimana pada suatu hari yang cerah,
tepatnya 1 November 1897, sekelompok pemuda dari daerah Liceo D’Azeglio
yang tengah duduk di bangku pemain di Corso Re Umberto memutuskan untuk
membentuk tim olah raga dengan berfokus kepada permainan sepakbola.
Mereka ini hanyalah sekelompok anak-anak yang saling berteman dan
menghabiskan waktu untuk jalan-jalan bersama dan bersenang-senang serta
melakukan berbagai hal positif. Lalu, mereka merencanakan untuk bermain
sepakbola di sebuah taman besar bernama Piazza d’Armi, dimana tempat ini
biasa digunakan untuk lari dan berkuda. Selain itu, karena tempatnya
yang cukup luas, tidak sulit bagi mereka untuk menemukan tempat bermain
sepakbola di sana.
Desember 07, 2012
Legendaris
14.54
| Posted by
rainmazter
Langganan:
Komentar
(Atom)









